DISKUSI SESI 2 MATA KULIAH PKn Jurusan Pemerintahan Semester 1

SOAL

Wilayah laut Indonesia merupakan salah satu Sumber daya yang sangat besar manfaatnya bagi kehidupan bangsa Indonesia, namun saat ini pengelolaan sumber daya kelautan belum begitu maksimal.

dari hal tersebut upaya upaya apa saja yang perlu dilakukan oleh pemerintah dalam pemenafaatan Sumber daya kelautan tersebut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dimungkinkan dalam pengelolaan tersebut membutuhkan dana yang cukup besar, dengan teknologi yang mendukung..silahkan diskusikan !!!

 

JAWABAN

 

Wilayah laut Indonesia merupakan salah satu Sumber daya yang sangat besar manfaatnya bagi kehidupan bangsa Indonesia. Supaya pemanfaatannya bisa dirasakan secara maksimal untuk peningkatan kesejahteraan warga negara Indonesia maka perlu adanya regulasi penggunaan sumber daya laut yang jelas. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih seperti yang dicita-citakan didalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3 disebutkan, bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Meskipun begitu tidak dapat dipungkiri juga bahwa kekayaan alam khususnya laut di Indonesia masih banyak yang dikuasai oleh pihak asing, dan tidak sedikit yang sifatnya ilegal dan mementingkan kepentingan sendiri, seperti penggunaan pukat harimau; penggunaan bahan peledak; dan mengambil dan menjual karang laut. Padahal hal ini bisa merusak sumber daya laut yang ada. Untuk itulah, peran Pemerintah sangat dibutuhkan untuk bisa menjaga dan mempertahankan serta mengolah kekayaan dan potensi maritim di Indonesia.

Untuk mengolah sumber daya alam laut ini, upaya – upaya yang diperlukan adalah antara lain sebagai berikut:

-          Perbaikan infrastruktur

-           peningkatan SDM seperti memberikan pelatihan – pelatihan dasar bagi para nelayan dan warga pinggiran pantai untuk menjaga kelestarian  laut Indonesia supaya sumber daya laut yang ada tidak tercemar dan rusak. Penamaman nilai-nilai dasar dan pentingnya menjaga sumber daya laut harus terus dilakukan secara berkesinambungan oleh Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan menteri - menteri terkait.

-           Modernisasi teknologi dan pendanaan yang berkesinambungan dalam APBN negara agar bisa memberi keuntungan ekonomi bagi negara dan juga bagi masyarakat.

-          Memperketat pengawasan di daerah batas laut teritorial, supaya kapal – kapal laut negara lain tidak mudah masuk dan melakukan illegal fishing yang merugikan negara.

-          Kerjasama bilateral antara Indonesia dan negara-negara tetangga di kawasan dalam penanggulangan illegal fishing perlu dilakukan karena mengingat kegiatan ilegal fishing ini sudah sangat mengancam keberadaan dan kapal asing yang melakukan kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia sebagian besar berasal dari negara tetangga, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam dan Filiphina.

Sumber:

1.    BMP MKDU 4111/Pendidikan Kewarganegaraan

2.    Materi Inisiasi Tutorial Online Ke 2 Wawasan Nusantara

3.    Muhamad, Victor Simela. (2012). Illegal Fishing Di Perairan Indonesia: Permasalahan Dan Upaya Penanganannya Secara Bilateral Di Kawasan. Di akses pada 03 April 2020, dari https://jurnal.dpr.go.id/index.php/politica/article/view/305/240.

4.    www.pustaka.ut.ac.id. (n.d).  Pendidikan Kewarganegaraan . Diakses pada 03 April 2020, dari http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/?s=BMP+MKDU+4111%2FPendidikan+Kewarganegaraan

MAKALAH PERANAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

 

PERANAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

 


 

Nama         : SILAHKAN ISI 

 NIM          : 123456XXX

 

UNIVERSITAS TERBUKA INDONESIA 

TAHUN 2020

A. PENDAHULUAN

Pancasila merupakan landasan mendasar dan  ideologi bagi negara Indonesia, yang telah disepakati oleh para pendahulu, para pejuang bangsa. Sebagai dasar dan ideologi negara pancasila sudah mewakili seluruh tatanan agama, budaya, ras dan golongan yang ada di Indonesia. Dengan kata lain, pancasila sebagai ideologi merupakan sekumpulan nilai - nilai yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang teguh oleh setiap masyarakat. Ideologi dijadikan mereka untuk mengetahui cara dan bagaimana yang baik, yaitu secara moral atau normatif dianggap benar dan adil, dalam bertingkahlaku dan bersikap.

 Bukti bahwa pancasila sebagai ideologi terbaik bangsa ini adalah sejak 18 agustus 1945, satu hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, sampai usia negara yang sudah menginjak usia 74 tahun ini, pancasila masih digunakan dan menjadi idola dan solusi bagi negara yang multikultural seperti Indonesia ini. Negara Indonesia akan tetap dan terus berpegang teguh kepada pancasila sebagai dasar negara. Sebagai dasar negara tentulah pancasila harus menjadi acuan Negara dalam menghadapi tantangan global dunia yang terus berkembang. Hal yang senada juga disampaikan oleh Amin, Zainul Ittihad. (Dalam modul 1. Pkn, Hal. 24) dalam konsep ini doktrin diartikan sebagai himpunan asas atau teori yang diterima sebagai kebenaran dan digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Dalam kaitannya dengan Pancasila, UUD 1945 maka doktrin dasar yang kita pakai sebagai pedoman dalam melaksanakan upaya untuk mencapai tujuan nasional adalah Wawasan Nusantara atau Wasantara.

Di zaman yang semakin modern ini,  pancasila memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga marwah dan  kepribadian bangsa indonesia supaya tidak tergerus oleh ideoligi dan pemikiran bangsa lain. Meski Disinilah fungsi pancasila sebagai ideologi bangsa yakni, sebagai penyaring masuknya ideologi baru yang bisa berdampak buruk bagi keutuhan bangsa dan negara. Dengan kata lain, globalisasi itu akan menjadi hal yang positif karena dapat menambah wawasan dan mempererat hubungan antar bangsa dan negara di dunia. Tapi jika kita tidak dapat memfilter dengan baik sehingga hal-hal negatif dari dampak globalisasi dapat merusak moral bangsa dan eksistensi kebudayaan indonesia. Oleh karena itu, Oleh sebab itu, dalam artikel ini penulis akan membahas tentang peran pancasila sebagai ideologi negara dalam menfilter masuknya ideologi lain di era globlisasi ini.

 

B. KAJIAN PUSTAKA

1.  Pengertian Pancasila

Secara etimologis pancasila berasal dari bahasa sansekerta dari india (bahasa kasta Brahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalaha bahasa prakerta. Perkataan  pancasila  mula-mula  terdapat  dalam kepustakaan budha di  india. Ajran    Budha bersumber pada kitab suci tri pritaka, terdiri atas tiga macam buku besar yaitu: Sutta Pitaka, Abhidama Pitaka dan Vinaya Pitaka. Dalam ajaran budha terdapat ajaran moral untuk mencapai nirwana dengan melalui samadhi, dan setiap golongan berbeda kewajiban moralnya. Pandangan hidup suatu bangsa adalah masalah pilihan, masalah putusan suatu bangsa mengenai kehidupan bersama yang dianggap baik. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu dijadikan tuntunan dan pegangan dalam mengatur sikap dan tingkah laku manusia Indonesia dalam hubungannya dengan Tuhan, masyarakat dan alam semesta. Pancasila sebagai dasar Negara, ini berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dijadikan dasar dan pedoman dalam mengatur tata kehidupan bernegara seperti yang diatur dalam UUD.

2. Landasan Historis

Bangsa memiliki ideologi dan pandangan hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya, diambil dari nilai-nilai yang tumbuh, hidup dan berkembang di dalam kehidupan bangsa yang bersangkutan. Demikian halnya dengan Pancasila yang merupakan ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia digali dari tradisi dan budaya yang tumbuh, hidup, dan berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia sendiri sejak kelahirannya dan berkembangnya menjadi bangsa yang besar seperti yang dialami oleh dua kerajaan besar tempo dulu yaitu Kedaulatan Sriwijaya dan Keprabuan Majapahit. Setelah berproses dalam rentang perjalanan  sejarah yang panjang sampai kepada tahap pematangannya oleh para pendiri Negara pada saat akan mendirikan Negara Indonesia merdeka telah berhasil merancang dasar Negara yang justru bersumber pada nilai-nilai yang telah tumbuh, hidup, dan berkembang dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia yang kemudian diformulasikan dan disistematisasikan dalam rancangan dasar Negara yang diberi nama Pancasila. Nama tersebut untuk pertama kalinya diberikan oleh salah seorang penggagasnya yaitu Ir. Soekarno dalam pidatonya tanggal 1 Juni 1945 dalam persidangan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atas saran dan petunjuk seorang temannya yang ahli

bahasa. Dengan demikian kiranya jelas pada kita bahwa secara historis kehidupan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dan dengan nilai-nilai Pancasila serta telah melahirkan keyakinan demikian tinggi dari bangsa Indonesia terhadap kebenaran dan ketepatan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan Negara Republik Indonesia, sejak resmi disahkan menjadi dasar Negara Republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia sampai dengan saat ini dan insya Allah untuk selamanya.

C. PEMBAHASAN

Pancasila merupakan landasan mendasar dan  ideologi bagi negara Indonesia, yang telah disepakati oleh para pendahulu, para pejuang bangsa. Sebagai dasar dan ideologi negara pancasila sudah mewakili seluruh tatanan agama, budaya, ras dan golongan yang ada di Indonesia. Dengan kata lain, pancasila sebagai ideologi merupakan sekumpulan nilai - nilai yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang teguh oleh setiap masyarakat. Ideologi dijadikan mereka untuk mengetahui cara dan bagaimana yang baik, yaitu secara moral atau normatif dianggap benar dan adil, dalam bertingkahlaku dan bersikap.

Oleh karena itu tantangan di era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi kepribadian bangsa,dan kini mau tak mau,suka tak suka ,bangsa Indonesia berada di pusaran arus globalisasi dunia.Tetapi harus diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia tak mesti kehilangan jatidiri,kendati hidup ditengah-tengah pergaulan dunia.Rakyat yang tumbuh di atas kepribadian bangsa asing mungkin saja mendatangkan kemajuan,tetapi kemajuan tersebut akan membuat rakyat tersebut menjadi asing dengan dirinya sendiri.Mereka kehilangan jatidiri yang sebenarnya sudah jelas tergambar dari nilai-nilai luhur pancasila.

    Dalam pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang menutup diri rapat-        rapat dari dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan         kemajuan bangsa-bangsa lain. Bahkan, negara sosialis seperti Uni Soviet yang        terkenal anti dunia luar tidak bisa bertahan dan terpaksa membuka diri. Maka,         kini, konsep pembangunan modern harus membuat bangsa dan rakyat Indonesia     membuka diri. Dalam upaya untuk meletakan dasar- dasar masyarakat modern,        bangsa Indonesia bukan hanya menyerap masuknya modal, teknologi, ilmu                pengetahuan, dan ketrampilan, tetapi juga terbawa masuk nilai-nilai sosial politik     yang berasal dari kebudayaan bangsa lain.

Yang terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat Indonesia mampu menyaring agar hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan sesuai dengan kepribadian bangsa saja yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai budaya yang tidak sesuai apalagi merusak tata nilai budaya nasional mesti ditolak dengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan tersebut terletak pada Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Bila rakyat dan bangsa Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka nilai-nilai atau budaya dari luar yang tidak baik akan tertolak dengan sendirinya. Cuma, persoalannya, dalam kondisi yang serba terbuka seperti saat ini justeru jati diri bangsa Indonesia tengah berada pada titik nadir.

Bangsa dan rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya sendiri sehingga budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun tidak sesuai terserap bulat-bulat. Nilai-nilai yang datang dari luar serta-merta dinilai bagus, sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam hati sanubari rakyat dinilai usang. Lihat saja sistem demokrasi yang kini tengah berkembang di Tanah Air yang mengarah kepada faham liberalisme. Padahal, negara Indonesia—seperti ditegaskan dalam pidato Bung Karno di depan Sidang Umum PBB—menganut faham demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong royong, kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat.

Sistem politik yang berkembang saat ini sangat gandrung dengan faham liberalisme dan semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila yang seharusnya dibangun dan diwujudkan rakyat dan bangsa Indonesia. Terlihat jelas betapa demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM) dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli apakah merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya dari luar, khususnya faham liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal memaksa bangsa dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Akibatnya, seperti terlihat saat ini, konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite politik tampak hanya memikirkan kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.

Dalam kondisi seperti itu sakali lagi peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri. Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari solusi dari persoalan tersebut .

           Dari penjelasan diatas maka pancasila memiliki beberapa kedudukan mendasar dalam negara Indonesia, yaitu:

1. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa yang dapat mempersatukan kita, serta memberi petunjuk dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan lahir dan batin dalam masyarakat kita yang beraneka ragam. Artinya, sebagai pandangan yang marupakan tolak ukur kebaikan yang berkenaan dangan hal-hal bersifat mendasar dan abadi dalam hidup manusia, seperti cita-cita yang hendak dicapainnya dalam hidup manusia.

2. Sebagai jiwa dan kepribadian bangsa, berarti Pancasila memberi corak yang khas bagi bangsa Indonesia, yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Nilai-nilai Pancasila mungkin saja dimiliki oleh bangsa-bangsa di dunia ini, tetapi kelima sila yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

3. Sebagai sumber dari segala sumber hukum, artinya Pancasila menjadi sumber segala peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia atau segala peraturan perundangan yang berlaku di negara kita, tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. 

4. Pancasila sebagai filsafat bangsa adalah Pancasila diterima oleh semua golongan masyarakat Indonesia sehingga dapat mempersatukan berbagai paham dan golongan dari keanekaragaman bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila mengikat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia

5. Sebagai perjanjian luhur rakyat Indonesia, berarti Pancasila disetujui oleh wakil-wakil rakyat menjelang dan sesudah proklamasi. Disetujui karena digali dari nilai luhur budaya bangsa yang sesuai kepribadian bangsa dan lebih teruji kebenarannya.

6. Sebagai dasar negara, berarti pancasila digunakan untuk mengatur kehidupan negara.

D. PENUTUP

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat  disimpulkan bahwa bangsa dan negara Indonesia tidak bisa menghindari akan adanya tantangan globalisasi, dengan menjadikan pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi globalisasi bangsa Indonesia akan tetap bisa menjaga eksistensi dan jati diri bangsa Indonesia. Ideologi pancasila adalah ideologi yang paling ideal bagi bangsa Indonesia yang dapat digunakan untuk menfilter  pengaruh negatif ideologi bangsa lain akibat pengaruh globalisasi yang tidak bisa dihindari.

SARAN

Saran saya, untuk memupuk dan menguatkan semangat warga negara dan bangsa  ini dari pengaruh negatif globalisasi terhadap idelogi negara, pengajaran dan penanaman Pendidikan pancasila harus terus ditingkatkan. Supaya penerus bangsa ini tidak akan terlalu terpengaruh dengan budaya luar yang akan mempengaruhi budaya di Indonesia yang telah turun termurun di wariskan oleh pendahulu kita.

 

REFRENSI

 

1.    Amin, Zainul Ittihad. (n.d).  Modul 1:  Pengantar Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Universitas Terbuka. Diakses pada 12 April 2020, dari http://repository.ut.ac.id/4063/1/MKDU4111-M1.pdf

2.    BMP MKDU 4111/Pendidikan Kewarganegaraan. Diakses secara online pada 18 April 2020, dari http://www.pustaka.ut.ac.id/lib/

3.   Jamli, Edison , Kewarganegaraan, 2005.Jakarta: Bumi Akasara Krsna. Pengaruh  Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang, 2005

4.   Sabrina, Atikah Nur. 2019. (Ed. Nurcahyo, Imam). Peran Pancasila dalam Era Globalisasi. Diakses pada 18 April 2020, dari https://beritabojonegoro.com/read/18562-peran-pancasila-dalam-era-globalisasi.html

5.    Winataputra, Udin. S. (n.d). Modul 1 Hakikat, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di SD. Jakarta. Univertitas Terbuka Indonesia. Diakses pada 18 April 2020, dari http://repository.ut.ac.id/4011/1/PDGK4201-M1.pdf

 






 

Palestine, ours?

-palestine, Ours? -
They shooted a million of guns, a thousand of boms. Here and there. But, you are still. Surrender to God is the most powerful gun. They may have your homes, lands, and mosques. Demolished all, till turning in pieces. Yet, we found no regret in you. Your faith is the strongest. You have no idea to feel afraid of them. Coz, you have God in the deepest of ur heart. Let them have yours. But, your faith will Never be. Cos, they are   demons.
You 're us, your pain will never be yours. Coz, It's all ours. When someone asks you about "terrorist". Just pointing at them. Israel.

-Alfaateeh Tajudin, iShare

Palestine

-Palestine-
They shooted millions of guns, thousands of boms. Here and there. But, you are still. Surrender to God is the most powerful gun. They may have your homes, lands, and mosques. Fire it all, till turn in pieces. Yet, we found no regret in you. Your faith is the strongest. You have no idea to feel afraid of them. Coz, you have God in the deepest of ur heart. Let them have yours. But, your faith will not be theirs. Never. Cos, they are a  demon.
Thee're us, your pain will never be yours. Coz, It's all ours.  Loving so much brothers.

No life without a happiness


I've no life to live, but I'm alive.
I've had dreams to live a better life. Even
I've lost my precious. But I'm still alive.
Thue, thought me to love,
But, I've no left love to love. But I'm alive.
I've a heart. Yet, it's an empty. Billion dollars have been mine since years back. Yet, I found no happiness in me.

-Alfaateeh Tajudin, iShare

Bahaya laten korupsi, Salah siapa?

-Bahaya Laten Korupsi, Salah Siapa?
Beberapa tahun belakangan ini, Kami sering mendengar kata "cintailah produk indonesia" . Dan ini adalah sebuah usaha para petinggi dalam kancah nasional untuk menasionalisasikan "made in Indonesia". Hal serupa Adalah langkah menuju nusantara mandiri. Anehnya Kami selalu disuruh berebut berlabel "SNI", Bapak berdasi justru terpikat martabak mancanegara.
Kami tidak berdasi seperti Tuan. Tapi, kami tahu cara berdedikasi. Kami tidak pintar mendemokan "cintailah produk indonesia ", sementara istana perwakilan sesak dengan meja dan kursi cap luar pertiwi, berujung korup. Harga melongo mata, Tuan dan Nyonya anggap itu kewajaran.

Belakangan juga tersiar kabar Permintaan tunjangan juta-Jutaan yang dianggap sangat masuk nalar. Kami atas nama yang diwakili menjerit dalam kebisuan, sementara perwakilan kami sibuk mengumpulkan Dolar dan Rupiah. Apalah daya, jika Sang perwakilan tidak benar-benar mewakili. Hanya sebuah nama tanpa arti dan makna. Panggilan tanpa  ruh dan nyawa.

"Katakan tidak untuk korupsi" Adalah juga virus yang disebarkan oleh tuan dan nyonya, bukan? Lalu, kalian di sumpah untuk tetap setia. Tetapi, rekan-rekan tuan semakin banyak yang serakah. Dan khidmat dalam khianat. Padahal Tuan dan nyonya loh yang membumikan "katakan tidak pada korupsi" di bumi berbhineka ini. Akankah tuan di singgasana menemui gilarannya nanti? Jangan tuan. Jangan  anggap gelar "Panjang Tangan" itu adalah piala bergilir yang patut direbut - rebut. Akhirnya berbondong-bondong keluar masuk Jeruji. Bui itu begitu menyiksa dan menakutkan, bukan? Namun, fakta lapangan bersilat lidah. Andai, si "Hukum" bermakna menghukum, maka proyek-proyek triliunan itu (no need to mention) pasti berjalur jujur. Jabatan-jabatan tidak pula diselewengkan.

Kami atas nama rakyat sudah geram menonton drama panjang "Koruptor vs. KPK, KPK vs. Polri". Apa kami harus penuhi jalan-jalan seperti kejadian 89, bukan untuk melengserkan "Sang Nomor Satu" sih, tetapi untuk aspirasi supaya hak kami dicipta? Supaya hukum terbangun dari tidur pulasnya. Meruncing ke atas dan berakhir menjerakan. Apakah perlu Study banding ke beberapa negara seperti Cina, Jepang, Malaysia dan  Amerika untuk menahan laju koruptor yang mengakar kuat? Tuan tak perlu menjawab. Kami tidak butuh wacana fiktif. Kami hanya butuh bukti bukan bermanis kata.

Tuan dan Nyonya yang telah hilang kehormatannya, telah lama bising telinga ini karena "ulah panjang tangan" sahabat Pejabat dan DPR menderet-deret. Tapi, Kami masih sisakan yakin sekian persen, sebab pasti masih ada orang-orang terhormat yang mewakili kami. Untuk yang masih terhormat, semoga imannya tidak tergoda dan terbeli kehormatannya hanya karena ketidakmampuan menahan keinginkayaan. Memperkaya diri dengan jalan tikus, itu adalah sebuah kemiskinan sesungguhnya. Kami rakyat nusantara tahu, Indonesia sedang dilanda krisis kepercayaan kepada Sang perwakilan . Sebab kami selalu dimanja dengan drama percintaan tuan dan nyonya dengan para penyuap. Lagi lagi kami masih percaya, disitu masih ada orang-orang terhormat yang memiliki dedikasi tinggi nan mulia. Segelintir anak manusia, yang mengungkap kebenaran dengan seadil-adilnya. Menggiring ke hakim dengan tuntas.

Semua orang setuju bahwa Pengadilan dihadirkan untuk mengadili. Lalu Apa yang akan terjadi Ketika pengadilan tidak mengadili? Menghukum tetapi tidak bermakna penghukuman. Bui tetapi tidak sepenuhnya membui. Adalah Koruptor berakar pinang. Antara DPR VS. KPK. Antara bos dan bawahan. Antara penguasa dan yang dikuasai. Dan inilah yang terjadi tersebab hukum memanjakan penjahat-penjahat berkelas bangku kuliah. Dan benarlah yang menjadi pernyataan Lord Acton bahwa "kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan yang absolut pastilah korup". Adalah sebuah Fakta kekinian bahwa kami masyarakat awam politik dan hukum sedang dalam zona krisis keyakinan. Krisis kepercayaan pada hukum dan lembaga-lembaga yang menaunginya, serta sederet pejabat negara.

Mengutip pernyataan bapak Abdurrahman Wahid, atau lebih sohor dengan nama Gusdur bahwa Negara Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika ini tidak pernah hancur karena konflik horizontal yang diakibatkan oleh perbedaan agama, suku, ras ataupun fundamentalisme. Pancasila cukup kuat menahan gejolak konflik horizontal dan sejarah telah membuktikannya.
Namun, negara ini akan hancur ketika pemimpin bangsanya korupsi dan tidak memiliki hati dalam memimpin". Bisa Bermakna Pemimpin nomor satu di peritiwi, kemudia mengakar pinang ke provinsi, kota, lurah, kabupaten, kecamatan, juga desa. Bahwa sampai kepada pimpinan yudikatif, legislatif dan eksekutif. Jika semua lini ini totalitas dalam loyalitas, menjaga komitmen sumpah setia. Maka, tidak akan ada regenerasi koruptor seperti yang terjadi sekarang.

Pertanyaan yang cukup mendasar adalah Apakah Menguatnya kejahatan korupsi adalah bukti bahwa masih bebalnya pelaku dan bobolnya sistem?? Ini Salah Siapa, ini dosa siapa?

Samarinda, 21 Juli 2017
-Alfaateeh Tajudin, iShare

Surat kecil untuk Adek

-Surat Kecil Untuk Adek - 


Dear adek,
Kau terlihat anggun, dengan menggunakan kain dikepala mu. Berdiri diantara kerumunan penumpang Tilongkabila itu. Sambil Melambaikan tangan tanda perpisahan, Kau lepaskan senyum tak ikhlas itu. Juga, air mata memberikan isyarat tidak ingin pergi. Aku tahu, adek tidak ingin jalan ini, karena bukan Kota Bunga. Cukuplah Malang itu menjadi cerita panjang tentang jelasnya kekeliruan ku yang belasan tahun samar, lalu aku berpaling darinya, karena-Nya. Dan kini, Makasar lah jalan hijrah mu, Dek. Kita mungkin punya jalan yang berbeda, namun dengan tujuan yang satu, yakni memperkaya diri dengan ilmu, melangkah lebih dekat kepada Illahi, juga Rasulullah.

Dek, tidak ada ilmu yang lebih hebat daripada ilmu tentang Tuhan dan Pembawa risalah. Termaktub dalam Alquran dan Alhadist. Kita sama-sama menjaga keduanya, Allâh Akan menjaga kita. Terlebih Ibu, Bapak kita. Dua pahlawan tanpa maprih, dua pecinta yang mengajarkan arti mencintai, yang dengan segala kebaikannya tak pantas berbalas  air tuba. Dari keduanyalah, terungkap tabir, bahwa lambang pecinta sejati itu, bukan datang dari cerita cinta romeo-juliet, bukan pula kisah cinta laila-majnun. Apalagi, narasi cinta dalam serial drama Kapal Vanderwick. Bukan. Bukan, Dek. Tetapi, itu datangnya dari mereka, yang kita panggil Ibu dan Bapak. Apa kau dan aku sebegitu tega, menghadiahi neraka untuk mereka, setelah syurga mereka berikan?? Maka dari itu, mari sama-sama memperbaiki diri dengan ilmu. Lalu, berikan Syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai.

Dek, Tidak ada yang lebih membahagiakan selain terpenuhinya jiwa dengan ilmu-ilmu Agama yang kita yakini, terisinya rumah dengan penghuni berilmu yang takwa. Seperti kata Imam Syafi'i, "jika kau lelah untuk belajar, maka kau harus menanggung perihnya kebodohan". Karena kefakiran ilmu itu begitu menyedihkan, membosankan, memiskinkan hati, dan Memperkokoh kebatilan. Dan, membinasakan yang haq. Sebab itu, kau (aku dan siapapun) harus terus belajar dek. Kau harus terus menimba ilmu meski bukan di kota Malang yang selalu ku rangkai dengan indah padamu.

Dek, Kamu harus tahu, bahwa perempuan adalah jantungnya sebuah keberlangsungan peradaban manusia yang berasaskan moralitas. Seorang filsuf meninggalkan pesan bahwa jika perempuan baik, maka baiklah negeri ini, jika perempuan rusak maka rusaklah sebuah negeri. Itulah kenapa, penting bagi setiap sanak untuk selalu peduli terhadap kualitas saudara-saudari sedarahnya. Kualitas pelbagai ilmu dunia, terlebih pemahaman akhiratnya. Aku tidak peduli, jika nanti kau akan terlihat kearab-araban setelah lebih seringnya majelis kau hadiri, dan itu akan jauh lebih membahagiakan daripada kau harus berkiblat kebarat-baratan.

Dek, Orang alim juga pernah berpetuah, "semua orang bisa merampas apapun yang kita miliki, tetapi tidak seorang pun mampu merenggut ilmu dan pengalaman yang seseorang punyai". So, Jadilah pribadi yang haus berilmu pengetahuan, berilmu agama mapan. Setelahnya, kau akan ketahui, indahnya beramal dengannya. Dalam salah satu tausiyah, pernah saya dengar bahwa, "Setan jauh lebih takut kepada orang yang berilmu kemudian diamalkannya daripada yang ahli ibadah tanpa disertai ilmunya". Jelas sekali, bukan?. Kau juga akan segera menyadari, betapa jahiliyahnya perilaku setelah duduk di pendopo ilmu dan bercengkrama dengan ahli ilmu yang khusyuk beribadah dengannya.

Dek, hijrah mungkin kata yang lebih tepat untuk bertandahnya kau dari satu posisi ke posisi yang lain. yang awalnya mungkin harus dipaksakan. Setelah gagal mengirim mu ke pondok "Alhusaini" (salah satu Pesantren di kota Bima, yang juga gagal saya menimba ilmu didalamnya) 3 tahun yang Lalu. Bukan, bukan ingin memenjarakan mu dengan ide-ide agamais seperti pemikiran intelek dalam tanda kutip (") itu.  Karena membebaskan mu dari belenggu rantai-rantai kefakiran ilmu syariat adalah kewajiban yang harus ku tunaikan. Ku katakan tidak jika untuk memberi kebebasan yang ujungnya kebablasan. Dan berakhir derita. Saya yakin, bahwa para Nabi diutus untuk membebaskan umatnya dari kelancangan berfikir dan kekeliruan bertauhid. Mereka lah yang saya panuti. Tidak Seperti perbincangan malam itu, di salah satu perjamaun diskusi. Setahun silam. Yang gencar-gencarnya membumikan "kebebasan" versinya, yang menurut pandangan orang yang fakir pengetahuan seperti ku, tidak mampu melampauinya.

Dek, kualitas mu adalah penentu kualitas generasi setelah mu. Generasi yang lahir dari keluarga mu sendiri. Ustad Khalid Basalamah, dalam salah satu ceramahnya menegaskan, bahwa Orang tua yang Sholat akan melahirkan anak-anak yang sholat. Orang tua yang taat, akan mengajarkan ketaatan pada anak-anaknya. Meskipun tidak ada yang bisa menjamin hal itu. Untuk itulah, ikhtiar kita (memperbaiki agama) sebagai pencetak kualitas emas Rasulullah, bertolak ukur sepenuhnya pada mu, pada kita. Karena orang tua, terutama ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya.

Dek, Alhamdulillah, setelah lama kau berpeluh air mata, disertai melelehnya ego dan meredupnya nafsu duniawi. Aku yakin, ini adalah bagian terpahit diantara ribuan keluh. Pilihan terberat dari  sekian keinginan. Dan, ini sesungguhnya adalah pilihan yang tidak kau inginkan sama sekali. Mungkin sulit dan teramat sakit. Tetapi, Yakinlah bahwa kita harus merasakan sulit atau sakit terdahulu, supaya kita bisa menghargai nikmatnya sehat atau kemudahan. Kenapa kita harus takut melewati lorong- lorong pahit dalam kehidupan kita, jika didalam kepahitan tersebut akan ada banyak kenikmatan yang menunggu setelahnya? So, Jangan pernah takut.

Dek, alhamdulillah, setelah Tuhan titahkan "Kun" atas niat baik setiap makhluk berakal. Aku atau siapapun dan apapun itu tidak pula mampu menembus ruang itu, tapi Allâh dengan keMahaKuasaanya, "Kun". Alhamdulillah, Puji ku panjat, sebab tertunainya niat. Yakni, menunaikan tanggungjawab sanak serahim. Tanggungjawab saudara untuk saudari.
Dan, Akhirnya, Tersampailah adik pada pendopo ilmu tentang Pencipta dan Pembawa risalah itu. Ma'had Itu. 
Dengannya, insya Allah, Allah dan Rasulullah akan lebih kau kenal dibanding apapun dibumi ini.
Denganya, semoga kita bisa menjadi salah satu ladang "Amal Zariyyah" bagi  IBU dan BAPAK. Aamiin..

Oh iya, Dek. Satu lagi,
Jadilah pribadi yang selalu membawa kemanfaatan untuk orang-orang disekitar mu. Yang selalu diingat karena kebaikan-kebaikan mu, yang selalu dirindu kata-kata mu, yang selalu ditunggu hadir mu ditengah-tengah mereka.
Jadilah sosok yang dengan lisan mu menjadi tentramlah setiap jiwa-jiwa pendengar mu.

Selamat berjuang di Kota Daeng, bersama pejuang-pejuang ilmu lainnya.

Terakhir, ku ucapkan kata maaf, karena telah memberi pilihan terpahit Sepanjang sejarah hidupmu, Dek. Tetapi, Insya Allah kelak kau akan rasakan madunya. Aamiin.


Somewhere, Minggu 09 Juli 2017

Your dearest Abang


-Alfaateeh Tajudin, iShare

Tentang Rokok

Saya bukan penggemar rokok. Juga bukan pegiat kopi-kopi. Dan itu adalah baik (read: hidup tanpa rokok). Pabrik-pabrik rokok juga tidak akan bangkrut dan gulung tikar hanya karena saya tidak gila rokok. Saya juga tidak minat menjadi partisipan penyumbang pajak dengan memperbanyak sampah puntung rokok. Pun, saya tidak harus tak enak hati menolak ajakan dan uluran sebatang dua batang rokok ketika berkumpul bersama teman sejawat (sahabat) seperti alasan kebanyakan orang.

Maaf, ini hanya tentang tumpukan batang  rokok dan kepulan asapnya yang menyesak dada, bukan tentang kopi-kopian dikedai-kedai kopi klasik nan modern.
Kembali ke rokok....

Sehari yang lalu juga, ada anak Smp kelas 2 yang mempertanyakan kepada saya, kenapa orang-orang masih merokok sedangkan ada tulisan, "merokok membunuh mu", lalu, dia lanjutkan kalimatnya, "ngapain juga masih dijual, udah tahu itu dapat membunuh".

Teng.... Tong.....

Haha....

Singkatnya begini, bahwa kalo rokok tidak dijual lagi, maka perusahaan rokok otomatis akan tutup, Pekerja di PHK, petani tembakau kena imbas dan negara amblas. Sebab, kata aktivis itu, rokok pajak nya besar.
Itu saya jawab berdasarkan jawaban dari para aktivis kampus  acap kali saya dengan di wqrung-warung kopi. kopy-paste lebih tepatnya. Hehe.
Lalu, disamping saya ada seorang bapak yang duduk juga. Saya iseng nanya,

"apa bapak merokok? ".
"tidak, udah berhenti lama. Udah 10 tahun"
Bapak (mantan) perokok berat itu kemudian bercerita, "saya berhenti karna dulu sempat dada saya sakit luar biasa hebat nya dan bla... Bla...

Pendek kata, Sebagai pengganti rokok saya habiskan 3 pack permen relaxa, selalu dibawa kemana mana. Sampai akhirnya saya berhasil Terlepas dari rokok (semacam tips). Saya bukan perokok, tapi saya hampir  dikelilingi oleh mereka yang  aktif merokok, setiap saat. Apa komentar mereka tentang "hidup tanpa rokok", ada banyak ragam pra-kata mereka ucapkan: beruntung sekali dengan tidak merokok karena tak ada yang dipusingkan ketika kantong kering, mending jangan Coba-coba ingin menjadi perokok aktif, saya sekarang susah melepaskan diri dari rokok, padahal awalnya coba coba. Pokoknya, nguras Rupiah. Mayoritas perokok yang saya temui berkata, lebih baik tidak makan daripada tidak merokok (read: mahasiswa perokok, pekerja berpenghasilan pas-pasan). Kasihan sekali.

Kesalahan Mayoritas perokok awam (artinya: tak faham ilmu perrokkan) adalah sembarangan mengepulkan asap sana sini padahal di samping nya ada anak-anaknya. Kamu kira jantung anak-anak sehebat dan sekuat jantung mu a? Itu, pengalaman pribadi. Itu, aktivitas perokok di desa-desa dan kampung kampung. Mungkin ada penelitian baru, bantahan bahwa asap rokok bukan bahaya laten bagi kesehatan ibu hamil, balita dan anak anak?
Mayoritas perokok juga berkata, "andai laki-laki tidak merokok, maka dia bukan lelaki". Dan, pertanyaan saya untuk perokok yang budiman adalah sejak kapan sebatang rokok jadi penentu jenis kelamin seseorang?

Tidak ada satu orang pun yang berhak melarang Anda untuk merokok, tapi pesan saya Adalah jadilah perokok yang santun. Ibaratnya Anda adalah sebuah pabrik, sampah/ampas olahan pabrik jika dibuang sembarangan terjadi pencemaran lingkungan. Begitupun dengan anda, ampas asap rokok yang Anda keluarkan adalah limbah yang  merusak bukan perokok,bilita, ibu hamil dan anak-anak.


-Alfaateeh Bima

Antara Hari ini dan Esok

-Antara Hari ini dan Esok

Kita tidak pernah tahu, kapan waktu kematian tiba. Bisa besok, lusa, minggu depan, bulan depan, mungkin juga tahun depan. Mungkin hari kita, tersisa hari ini sahaja. Besok mungkin kerabat dan sanak keluarga akan menangisi kepulangan kita, menestakan air mata duka. Yang seakan kita pergi terlalu cepat, meninggalkan mereka, selamanya.

Setelah kepergian kita, hanya ada dua hal yang tersisa. tentang perbuatan: Baik dan buruknya tindak tanduk serta perangai kita. Selebihnya tidak ada. Dan itu semua akan selalu menjadi buah bibir ditengah-tengah mereka. Sampai akhirnya terlupakan seiring bergantinya hari, minggu, bulan dan tahun. Hanya Sebatas itu pulalah kita dikenang lalu terabaikan. Jika mungkin, ini adalah jatah malam terakhir kita? Maka pasti kita tidak akan pernah bisa tidur semalam suntuk, menengadahkan tangan, bermunajat memohon ampunan dengan cucuran air mata tulus, jika bisa dosa kutebus dengan air mata darah, pasti akan kita penuhi. Karena kita tidak pernah tahu kapan waktu itu tiba. Maka kita juga jarang sekali, bahkan mungkin tidak pernah berdoa, memohon ampunan atas segala keangkuhan dan kesombongan karena tidak mau menerima kenyataan bahwa, "Allah tidaklah ciptakan jin manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada Ku (Allah) - adzariyat:56". Jelas ini adalah perintah. Lantas , kenapa hati kita ini sekeras batu? Bagaimana tidak, jika smartphone kita Lebih banyak terisi lagu-lagu daripada ceramah dan tausiyah (bukan mengkambing hitamkan smartphone).

Jika besok kita telah tiada, dan sinar rembulan, serta bintang gemintang malam ini adalah untuk kali terakhirnya , setelah sekian ribu malam kita lewati tanpa renungan akan kebesaran Pencipta. Sebab, mulai besok dan seterusnya, akan jadi malam panjang, gelap gulita yang mengerikan, kengerian yang tiada bandingan nya. Dan mulai hari besok kita dikandung bumi. Di perut bumilah kita terbaring kaku, seorang diri, digerogoti oleh Belatung dan ulat-ulat. Mengenaskan sekali nasib jasad yang kita eluk-elukan sepanjang hidup.

Dan ternyata, kita dapati bahwa besok kita masih segar bugar, menghirup udara yang sama, maka inilah kesempatan untuk memperbaiki semuanya, merubah semuanya menjadi kesholehan. Jika selama ini Qur'an sampe berdebu karna tidak pernah tersentuh. Maka, saat inilah waktunya. Karena nantinya Qur'an akan jadi penolong, dengan ijin Allah.
Jika selama ini sajadah tersimpan rapi dalam lemari, maka saatnya kita bersujud diatasnya.

Jika kemarin lebih banyak lagu-lagu di smartphone nya, maka saatnya diganti dengan tausiyah, ceramah, dan tilawah serta sholawat.
syukurilah, Nyatanya bintang dan rembulan malam ini bukanlah yang terakhir, maka mari kita jadikan sarana untk terus mengagungkan kamahabesaran Allah atas ciptaan-Nya.

*mari berbagi, karena berbagi itu indah.
*Salam jari telunjuk

-Alfaateeh

Negeri Para Koruptor


Negeri Para Koruptor

Jeruji besi adalah sebuah tanda pebghukuman atas sebuah kejahatan, tidak ada kata perlakuan yang berbeda jika hukum sudah benar benar ditempa, tetapi apalah daya jika negeri diperbudak jabatan.. Jik para koruptor bermewah mewahan dibalik Jeruji besi, apalah arti sebuah penghukuman kata najwa sihab. jangan pernah berharap ada kata "JERA" jika kebijakan belum sepenuhnya "MENJERAKAN". Bagaimana bisa penjaranya koruptor sama seperti gubuknya masyarakat di dunia luar.

Dibalik Jeruji besi, para koruptor bisa berleha leha, tetapi diluar sana, ada banyak orang yang hidupnya susah karena kebiadaban mereka. Lantas, masihkah pantas mereka diberlakukan istimewa? Cobalah lihat perbedaan antara dua narapidana, yakni koruptor dan narapidana yang bukan koruptor. Narapidana koruptor, diberi atau tidak, dijinkan atau tidak, nyatanya segala macam fasilitas, ada leptop, hp, Android, tv, dan kemewahan lainya terpampang di jeruji mereka. Petinggi penjara mungkin akan berkata, "kami tidak tahu, kami kecolongan" ketika ada yang sedang menginterogasi.. Mungkin saja mereka bisa katakan itu sedemikian rapi dengan rupa yang tak rapuh. Sekarang mereka bisa saja mengamankan semua keistimewaan itu, tetapi setelah itu berlalu, semua keistimewaan itu pasti akan berbalik juga. Miris, disisi lain, narapidana yang bukan korupsi, bui mereka jauh dri kata layak, seakan keadilan hanya milik kaum berharta. Diluar mereka mungkin hidup tak layak, hunian mereka tak pantas, tetapi dibalik jeruji besi malah tambah melarat. Tetapi, inilah bentuk keadilan di bumi khatulistiwa. Adil yang hanya bisa dikecapi lewat puing-puing Rupiah.
Hukuman para koruptor, dinegri ini masih terlalu ringan, para pembuat UUD pun enggan untuk membuat hukum yang lebih ketat dari sekedar memenjarakan.. Toh, ketika dipenjara, mereka hidup dengan layak. Lalu, dimana makna penghukuman?

Tak ada yang membedakan para koruptor dengan pelaku pembunuhan, pelaku narkoba, pengedar dan laina laina. Karena mereka semua adalah sama sama penjahat. Lalu kenapa ketika mereka sama sama penjahat harus ada yang disittimewakann dan yang dianak tirikan? Dan yang harus di anak tirikan adalah para koruptor. Bukan malah mereka. Ketika seperti itu, hukum dinegri ini perlu dipertanyakan? Kepada siapa kita harus bertanya?otomatis kepada pembuat undang undang. Andai pembuat undang undang dan seluruh jajaran nya ini adalah mereka yang benar benar taat terhadap aturan, otomatis mereka akan membuat undang undang yang lebih rapat buat para koruptor, seperti ditembak mati atau digantung mungkin, bahkan dipenjarakan seumur hidup. Menurut kaca mata saya, para pembuat undang undang ini takut, seandainya mereka memperlakukan hukum seperti itu, bisa bisa hukum yang mereka buat memangsa tuanya sendiri.
Yankinlah, selama hukum dinegeri ini masih pas-pasan dan pas diongkos para koruptor, maka semua akan tergadaikan dan terbeli oleh mereka.. Karena merka itu bergelimang harta, sehingga hukum bisa tergadaikan. Bisa berkaca sendiri pada kasus-kasus yang sudah ada.

Andaikan hukum koruptor bisa menjerakan, tidak mungkin populasi korupsi di negeri ini meraja lela. Seharusnya lembaga pembuat undang undang segera melirik aturan yang telah gagal melumpuhkan korupsi yang sudah terstruktur sedemikian rapi,yang otomatis telah merugikan negara, lebih-lebih rakyat nya. Lalu, pantaskah bui mereka diistimeeakan? Mari menoleh sejenak, lebih merugikan mana satu orang membunuh dua orang, jika dibandingkan satu orang petinggi negara yang merogok Miliaran rupiah uang rakyat dari sabang sampai Merauke? Lebih besar mana dampak negatif yang ditimbulkan? Otomatis jawabnya adalah pencuri uang rakyat. Hukum dinegeri ini semakin dipertanyakan ketika dibanyak kasus, contohnya, ada nenek yang hanya mengambil tiga buah Kakao, mengambil kayu jati, dan lain lain, yang tentunya tidak asing ditelinga kita, dari mereka ada yang didenda beejuta juta, ada yang dipenjara bulan ke tahun. Kasus kasus seperti inilah yang membuat semakin besarnya krisis kepercayaan di negeri ini. Jika Hukum sudah menyentuh golongan berduit makan akan tumpul dan tak berdaya, sebaliknya jika sudah menemukan korban di kalangan bawah maka semakin runcing dan kalangan berduit akan berkicau bahwa INDONESIA adalah negara hukum. 

Jika boleh berkaca dibeberapa negara pemberlaku hukuman menjerakan bagi koruptor seperi, hukuman tembak mati bagi negara cinta, gantung di malaysia, penjara Minimal 5 thun plus denda 2 juta US dolar di Amerika bahkan jika korupsi berat dibuang dr negara nya, penjara seumur hidup di Belanda dan Jepang hukum MEMPERmalukan PELAKU. Dinegera negara tersebut sebelum adanya hukum tersebut populasi koruptor membabi buta, hukum yang menguntungkan pihak borjuis masih diberlakukan, tetapi tidak lantas mereka berjalan ditempat, negara negara ini memutuskan untk mencoba meberlakukan hukum gantung/mati, hukum yang senekad ini mereka buat tentu banyak manuai kendala, kritikan, dan cekaman dari berbagai pihak. Tentu yang mencekam itu adalah bukan orang orang biasa, mereka adalah orang orang yang berpotensi akan melakukan kejahatan korupsi. Setelah pemberlakuan hukum tersebut perkembang biarkan bibit koruptor menurun drastis. Meski tidak sampai PUNAH, karena berbicara pemberantasan korupsi tidak hanya membicarakan hukum dan sistem, tetapi juga berbicara peran serta masyarakat dan lingkungan.

Nah! Yang ingin saya pertnayakn adalah kenapa negeri ini belum mau belajar dari keberhasilan dari negara pemberlakku hukumam BERAT? Negeri ini malah asyik dan sibuk memberikan remisi atau pengurangan masa tahanan Jika sudah tiba hari raya (idul fitri). apa yang salah dengan aparatur negeri ini?
Saya meyakini bahwa, ketika coretan anak nusantara ini di buat, pasti akan banyak yang mengatakan, "pintar menkritisi tetapi miskin solusi dan tindakan".. Tetapi keyakinan saya adalah mengkritik adalah salah satu cara penyadaran mental. Lewat menkritisi kita bisa menemukan sesuatu yang tersembunyi. Lewat menkritisi kita bisa saling silang argumen. Dan melalui menkritisi kita bisa mengetahui tata ruang yang kurang dari sebuah pergerakan sehingga kelak akan menuai kata solusi yang soluktif.


‪#‎watch‬ it on YouTube: Mata najwa edisi 2 maret 2016 dan compare it to Mata najwa penjara bintang lima para koruptor.
(komentar dri dua tayangan mata najwa diatas.. salam anti korupsi, Fatihurrahman.)

Sepucuk Surat untuk yang sedang berselimut pilu


Sepucuk Surat untuk yang sedang berselimut pilu
                    YAKINILAH!

Pasti akan ada satu titik, di mana semua yang samar akan terjernihkan dengan sejernih jernihnya. Hanya butuh kesabaran yang lebih dari sekedar sabar, setiap sabar yang tertuai pasti akan terpetik juga rasa manis buah penyabaran diri, tak penting pula mendapat pembenaran dari sesama, lebih baik bersbar tanpa harus berebutan siapa yang berada di tangan kanan dan siapa yang berdiri di tangan kiri. yang penting adalah bagaimana menjaga sabar dan ikhlas yang diikat sekian lama agar tidak terlepas hanya karena hasutan nafsu, yang ingikan pembenaran diatas kesilafan.yang salah belum tentu salah, pun yang benar belum pasti benar. sekarang tujuan nya adalah menjaga ikhlas dan sabar bukan mengejar pengakuan pembenaran dari setiap pasang mata dan lisan manusia.

Jika kehadiran masalah bermakna sebuah pengujian, maka patuhilah aturan. aturanya tentu sabar, sholat, dan usaha. toh Tuhan tidak akan pernah memberi beban jika pundak hmbanya tak mampu menanggungnya. itu janji Tuhan. jika kita masih melihat banyak yang terkalahkan oleh masalah dan memilih untuk putus asa. jangan salahkan Rob, cobalah tengok sedikit iman dalam diri.
orientasikan semua hanya atas Allah, maka sesulit dan seberat apapun cobaan itu pasti juga akan berasa manis. jika masih banyak yang bernilai negatif itu adalah hukum alam, karena dunia memang terisi secara berpasang-pasangan. jangan pesimis meski ada jutaan unsur negatif, pastilah disitu ada ribuan unsur positif, karena hukum alam akan selalu berlaku, disitu ada kebaikan maka keburukan pula akan ikut tumbuh secara beriringan.

Ingat!!! hidup itu memang sudah terorganisir dan sudah tersinetrosasi sedemikian rupa, yang menjadi pembeda dengan cerita di sinetron-sinetron itu adalah jika dikehidupan nyata kita diberi kebebasan untuk memilih menjadi orang baik atau orang tidak baik, memilih menjadi pemeran antagonis atau protagonis, inilah drama hidup yaang dimainkan dengan bebas oleh pemerannya, lain halnya jika disinetron yang dipertontonkan di TV-TV, para aktor daan aktrisnya memang ditentukan dia jadi protagonis atau antagonis. Dia tak memiliki hak untuk memilih. karenaa haknya hanya sebatas DIPILIH.
Pelajarannya adalah, anggap saja yang sedang terjadi sekarang adalah puncak atau anti klimax dari drama kehidupan ini, terlepas nanti ceritanya berakhir bahagaia atau tidak itu bukan tujuan utama, selama ketiga aturan di atas sudah terpenuhi. maka tunggu saja.


untukmu yang sedang dirundu pekiknya sebuah drama kehidupan, sulitnya menelan pill pahit kehidupan, tetap kuat dan tabah

Salam hangat


your dearest son
Fd, malang 06 maret 2016

Dialog CINTA

Dialog CINTA
Oleh: Hitaf Tanu

Aku: Apa kabar cinta? Kau pembuat  kegalauan terbaik sepanjang masa. Sepanjang sejarah manusia. Masih kah kau bersemayam di kedalaman hatiku? Diriku bergumam dalam heningnya malam.
Cinta: Aku masih tetap di sini, bersemayam dalam ketenangan telaga hati mu.
Aku : Sampai kapan kau akan tetap berada di sana? Tetapi, kali ini dia terdiam.
          Kenapa kau terdiam? Ucapku lagi.
Cinta: Aku sedang menghitung masa di mana aku akan pergi dan berpindah ke lain hati”
            (Kali ini aku yang terdiam)
Cinta: Kenapa kau membisu?
Aku: Aku sedang merenungkan ucapan mu. Dan apakah aku akan siap bila suatu saat nanti   aku akan kehilangan mu.
Cinta: Bagaimana bisa aku terus berdiam diri dalam hati mu sedang kau tidak pernah punya berani untuk sekedar berkata jujur pada sang pencuri aku? Lebih baik aku pergi saja.
Aku: Tidak cinta, tidak. Tak  akan ku biarkan kau lari dari hati ku. karena dia itu adalah    penuntun surgaku, ibu yang akan melahirkan anak-anak emas penghias bumi ini
Cinta: Sudahlah, harapan mu tak akan pernah tercapai, karena yang namanya cinta butuh pengorbanan dan butuh ungkapan untuk mendapatnya. Sedang kau tak miliki semua itu. cobalah sedikit tengok kiri kanan mu, mereka yang bergandengan tangan, perpasang-pasangan ke sana ke mari. sedang kamu hanya bisa berharap dalam doa mu kalo dia akan jadi permaisuri di pelabuhan terakhir istana cinta mu. Bukankah doa tanpa usaha itu adalah hal yang sia-sia?
Aku: Biarlah aku berdoa dalam heningnya malam. Berikan aku sedikit waktu lagi dan pahamilah betapa aku takut kehilangan mu.
Cinta: lalu kenapa kau masih membisu? Aku tak akan bermakna jika tak terucapkan oleh si pencinta, yaitu KAU. Kau akan membunuh ku jika masih tetap membisu.
Aku: Tuturmu mengalihkan dunia ku. Menggelapkan pandangan ku. Meremukkan hati ku. Mengganggu ketenangan jiwa ku. Itu adalah diksi terpahit yang pernah terlontar dari mu. Tetapi seberapapun kuatnya cinta ku padanya. Seberapapun besarnya takutku kehilanganmu. Aku lebih takut jika Tuhan ku berpaling ke lain hati, gelap yang kau berikan tak akan bisa mengalahkan gelapnya tanpa hadirnya Tuhan.
Cinta: Naif ! Munafik ! Tuhan ciptakan ku untuk kau miliki. Aku adalah nikmat terindah.

Aku: Kau akan indah dengan “IZAB KABUL”.. jika engkau pergi, maka akan ada cinta yang lebih Allah ridhoi.

AKU adalah SAYA

AKU adalah SAYA
Oleh: Hitaf  Tanu, 25 Okt. 15

Sebenarnya aku udah ada niat utk merubah pribadi perlahan demi perlahan, sejengkal demi sejengkal, tetapi selalu  ada tiga alasan ini yang selalu menyelubungi ku
(1) belum siap;
(2) nanti nanti saja;
(3) sudah ada niatan tapi masih belum siap
Alasan itu bak syair yang membuming, yang selalu aku sebut dengan lirih ke sana­–ke mari, di sana–di sini dan kapanpu ketika aku ditanyai kapan berhijrah. Bahkan disetiap pergantian tahun kelahiran ku, kata-kata yang disusun sedemikian rapi, yang berupa harap dan ingin sebelum angin ku hembuskan tuk padamkan kobaran api kue ulang tahunku seperti "semoga diumur ku yang sekian dan sekian ini, bisa menjadi pribadi lebih baik dari tahun tahun sebelumnya”
Yah ! Beribu semoga menjadi harapan semu. Hal itu, selalu terucap dalam pergantian tahun lahir ku, sudah berjuta semoga yang terucap, namun hasilnya nihil. Hanya secuil yang terjamah.  Hanya kata semoga yang bisa mewakili harap ku, kata semoga yang hanya bisa disemogakan tanpa ada usaha ku untuk menggapai harap ku. Hanya ada satu alasan ku yaitu nanti, nanti dan nanti. Yang entah kata nanti itu akan bertepi pada pergi nya waktu dengan sia-sia, menua nya usia dimakan senja, tidak sempurnanya amal karena fisik sudah merenta. Dan selalu ada alasan untukku menuda meraih perubahan itu.

Ingin ku serta ucapku adalah INI, akan tetapi tindak ku adalah ITU. Seakan dua jalur yang tak akan pernah bisa dipersatukan. Dan sampailah pada batas maksimal di mana kebimbangan melanda, sampai ku temukan dua makhluk yang saling berbisik dan melawan satu sama lain. Siapakah mereka? Mereka adalah aku dan saya, yang selalu menyemukan ingin.
Aku sampai pada titik ini:  “Aku tidak tahu lagi kenapa saya dan aku dipersatukn dalam satu. Diciptakan dalam satu kesatuan. Aku dan saya selalu membisikan dua jalan yang tidak bersekawan. Yang terkadang, saya melakukan sesuatu yang tidak aku kehendaki. Aku dan saya bagai dua unsur yang melebur dalam senyawa. Mungkin aku tidak akan pernah ada tanpa adanya saya. Mungkin juga sya tidak akan pernah ada tanpa aku. Saya juga tidak akan pernah tahu saya yang sesungguhnya tanpa hadirnya aku. Aku tahu salah karena ada saya. Dan aku jga tahu benar karena hadirnya aku. Aku berada dalam keberadaan aku. Aku dan sya, dua makhluk yang dengan sengaja diciptakan bukan tanpa maksud, mungkin aku hanya bisa mensemogakan tetapi pendorong untuk melakukan keinginan itu adalah saya. Karena aku tanpa saya bagai raga tak bernyawa, bagai hidup tapi tak mampu untuk bertindak. Inilah aku dan saya yang tercipta sebagai akal dan nafsu, sebagai hati dan pikiran. Yang selalu melahirkan kata nanti, nanti dan nanti sampai waktu berada diujung penantian panjangnya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, hanya ada satu solusi untuk mencapai sebuah harap, dengan mensejalankan akal­–nafsu, hati–fikiran, dua unsur ini sangat penting untuk dipersatukan sehingga bisa menjadi insa yang lebih baik. Solusi terbaik adalah Allah.




Tetesan bening Pun Enggan Merintik Lagi



Tetesan bening Pun Enggan Merintik Lagi
Oleh: Hitaf Tanu, 4 nov 15





Suara rintik mu begitu dirindui. Selalu memberikan rindu yang merekatkan sebuah persuaan. 

kala  dirimu berpaling bermusim-musim, rintik mu tak lagi hadir menemani bait-bait lara dalam kolbu
kau menjadi tetesan-tetesan bening penyejuk hati dan raga, kala dahaga mendera
kini kau telah lama pergi seperti tak tahu arah pulang.

Kami risau, galau dan bimbang. Hari-hari kami terlalu panas, tanpa hadirmu. Satu hal yang bisa kami lakukan, memanggilmu dengan sujud Istisqo.

Sujud istisqo kami, adalah syair tanda cinta kami pada Sang Ilahi Robbi.
Ajaran sang Panji Islam. 

Kala kau pergi seperti makhluk yang sedang marah, tak pernah menoleh. Tapi kau kerap hadir lewat bayang-bayang awan hitam. Tapi kau tak kunjung merintikkan tetesan bening itu. 

Kami butuh dikau, seperti kumbang butuh sari pati kembang di padang ilalang.
Kenapa engkau kini enggan meneteskan beningnya butiran itu?

Setelah bertahun-tahun tetesan mu tak terbendung di belahan bumi khatulistiwa.
Kini, tetesan bening itu pun enggan merintik lagi.